Watung Blog

Listen to the tree

Tuesday August 19, 2008 | Filed under: Spirituality
0 Comments

Seorang murid bertanya kepada Sang Guru, “Di tingkat mana saya berada kini?”

Guru berkata, “Benih mustilah ditanam tepat waktunya. Tatkala ia mulai tumbuh, akar-akarnya menjulur perlahan ke dalam tanah, merambah ke segala arah. Tanaman itu pun berkembang menjadi sebuah pohon, dan pohon itu tumbuh membesar, menghasilkan bunga dan buah-buahan. Tatkala berbuah, buah-buahan itu terpisah dengan tanah. Meski sebuah pohon terhubung dengan tanah di bawahnya, namun buah-buah itu hanya terhubung dengan manusia dan semua makhluk yang memanfaatkannya.

“Anakku, seperti itu jualah kehidupanmu. Engkau telah tumbuh tinggi, seperti pohon, hubungan dan keterikatan dalam pikiranmu, perhatianmu, dan keinginanmu tertuju pada tanah dan dunia ini. Seperti itulah tingkatanmu sekarang.

“Meski demikian, anakku, engkau memiliki suatu keterhubungan di dalam qalb-mu, hatimu, yang berpikir dan mencari Tuhan. Ijinkan aku menjelaskan bagaimana membangun keterhubungan itu. Camkan dan ikuti dengan baik.

(Read the rest…)


Arah Kiblat dengan Google Maps

Tuesday July 29, 2008 | Filed under: Fun Stuff
30 Comments

Kayaknya ini cara termudah menentukan arah kiblat. Bener-bener fun, akurat dan rasanya nggak pake banyak perhitungan seperti sekian derajat miring dari arah barat atau dengan bayangan matahari (walaupun bersyukurlah yang masih inget pelajaran geografi atau astronomi). Dan yang lebih utama: straight to the point. Baiklah saudara-saudara, kita tampilnya…

Google Maps!

Betul sekali. Hoho, kebayang nggak? Cukup kita tarik garis lurus antara Ka’bah di Mekah ke rumah kita, atau kantor kita, hotel kita, apartemen kita, villa kita. Sangat bermanfaat kalau kita lagi ada di negara yang susah cari masjid. Ok, mari kita lihat.

Pertama-pertama, kita cari dulu Ka’bah di Mekkah (sebenarnya tinggal search, tapi kalau nggak ketemu masukin aja koordinat berikut: 21.4225N, 39.8262E)

(Read the rest…)


Guru Sejati

Sunday May 11, 2008 | Filed under: Spirituality
5 Comments

guru_sejati_cover_blog.jpgGuru Sejati dan Muridnya
Karya: Bawa Muhaiyaddeen
Alih bahasa: Herry Mardian

Sejengkal seorang hamba dekati Tuhannya, sehasta Tuhan akan datangi. Selangkah ia datangi, seribu langkah Ia akan berlari menjemput.

Sebuah hadits yang sungguh menentramkan. Dia Maha Baik. Tapi begitulah agaknya bila seorang hamba… kembali. Bila kita datang dan mengetuk, pasti Ia membukakan pintu. Bahkan sekerling lirikan, sejumput doa yang tulus, tak akan disia-siakan. Ia menarik, memikat, dengan segala cara. Dibuat-Nya kita betah berkumpul di sebuah pengajian, atau membaca berlama-lama tentang kebaikan, atau senang berderma diam-diam. Jika kita miskin, Ia akan cukupkan. Jika kita terlampau kaya, Ia pun akan cukupkan.

Dan karena perjalanan ini adalah sebuah perjalanan kembali, perjalanan melintasi belantara ujian dan gurun ilusi — bukan sembarang perjalanan — Ia akan menghadirkan seorang pembimbing, seorang guru. Bukan pula sembarang guru: guru yang sesungguhnya, guru sejati.

Buku ini adalah sebuah rekaman pengajaran seorang guru Sufi, Bawa Muhaiyaddeen, tentang Guru Sejati, tentang perjalanan kembali, tentang bagaimana berinteraksi dengan Sang Guru selama perjalanan.

Yang menarik dari buku ini adalah juga yang membedakannya dengan kebanyakan buku-buku sufi yang ditulis di era dahulu. Bawa berkisah dengan konteks abad ini. Ia berhadapan dengan kita yang didera hidup, yang terasing oleh bisnis dan kerja siang malam, yang mulai muak dengan istilah-istilah agama yang kering dan tak sedikit pun menyentuh rasa dahaga. Ia bercerita tentang lampu dan saklar, mobil yang memiliki klakson berbentuk seperti terompet, binatang-binatang dan sertifikat kepemilikan rumah. Ia berbicara dengan bahasa kita.

(Read the rest…)


Terbang

Tuesday May 6, 2008 | Filed under: Family
4 Comments

dipajalan1.jpg

Dunia anak adalah ruang 7 x 7 meter di arena bermain, dimana mereka diajari menggambar di atas selembar 11 x 16 inci, dengan krayon 13 warna. Tapi coba letakkan anak-anak di tengah lapangan bola, maka mereka akan terbang kesana kemari, berpusing bak gasing.

Dipa, kini 15 bulan, berjalan, berlari. Dan itu berarti petualangan baru, dunia baru, dengan sejuta milyar kemungkinannya. Berputar-putar, jatuh dan bangun tak jadi soal. Tak ada tembok yang membenturnya. Tak ada kursi meja yang melilit kakinya. Tak ada kulkas, dispenser, kabel-kabel. Lihatlah wajah itu, teman-teman, seperti wajah kupu-kupu yang baru beroleh sayapnya.

Spread your wings. Fly, dear Dipa. Fly.


Reog Ponorogo, Indonesia, Malaysia

Sunday December 2, 2007 | Filed under: Misc
34 Comments

reog4.jpgSekarang ini kantor kok isinya orang ngributin Reog Ponorogo dan Rasa Sayange yang diklaim Malaysia. Ya bukan apa-apa sih, tapi entah gimana ceritanya kita ini — yang pemuja sandang Calvin Klein dan penikmat assiette du pecheur (mampus gak tuh bacanya) — tiba-tiba kok jadi apresiatif dengan yang namanya reog. Lha wong pertunjukan asli Jawa Timuran ini (hidup Arema!) di Taman Mini aja nggak ada yang nonton, kalah sama meriahnya festival tari Salsa (joget a la Jennifer Lopez) di Hotel Mulia bulan kemarin.

C’mooonnn guys… kapan sih terakhir kita nonton reog? Setahun lalu? 10 tahun lalu?

Tari Barongan

Tari Barongan yang diklaim Malaysia ini memang mirip dengan Reog Ponorogo. Bayangan saya tadinya pemerintah mereka datang ke Ponorogo, nonton reog lalu terbetik ide di kepala mereka “Kita klaim aja ini punya kita!”?

Mmm, kayaknya they are not that stupid deh…

(Read the rest…)


Backup your ‘life’… online

Thursday November 15, 2007 | Filed under: Misc
11 Comments

pg.gifBiasanya gini: kalau kita punya rencana, mencoba bersiap-siap akan sesuatu, sesuatu itu malah nggak terjadi. Jadi saya dan istri mulai berencana tentang hal-hal terburuk: tabrakan di jalan, rumah kebakaran, disamber tsunami, gunung meletus, gempa bumi… yang kayak gitu lah. ;-)

Lalu muncul pertanyaan, apa yang kita akan bawa seandainya, misalkan nih, ada kebakaran di kanan kiri sebelah rumah atau ada tsunami warning di radio?

Saya ingat dulu jamannya tsunami di Aceh, di antara korban-korban yang selamat ternyata banyak yang kesulitan mengakses account bank-nya, atau mengklaim asuransi, atau bahkan mengklaim hak miliknya sendiri lantaran satu hal: nggak ada dokumen, bahkan fotokopinya sekalipun.

So we came up with this idea:

dash.gifKami scan semua dokumen-dokumen penting: KTP, paspor, asuransi, sertifikat (ijazah, penghargaan, apa aja), kartu keluarga, akte kelahiran, BPKB, … sampai kartu kredit, buku tabungan dan surat nikah. Kami scan semuanya. Hasilnya: 50-an file yang totalnya nggak nyampe 60 Mb (kalau diturunin resolusinya mungkin bisa lebih kecil lagi).

(Read the rest…)


Azka berdoa

Tuesday October 30, 2007 | Filed under: Family
4 Comments

“Mama, Azka hebat dong: diludahin sama temen Azka, tapi Azka malah mendoakan dia.”

Wuah! Mustinya ini nurun dari ayahnya… Saya langsung ingat kisah tokoh yang urung membunuh musuhnya yang telah meludahinya ketika berperang. Bukankah anjuran para nabi juga, kalau ditampar pipi kiri, kasih pipi kanan? Keren!

“Hebat tuh! Emangnya Azka berdoa seperti apa?”

“Azka berdoa semoga lidah teman Azka itu ada ulatnya…”



Garis
RSS | My Yahoo! | Google | Bloglines | My AOL | FeedLounge
All contents ©2005-2010 by Watung Arif, unless otherwise noted.
Contents under Creative Commons License.